Optimalisasi Objek Wisata Dan Pemberdayaan Pinggir Kota (Lomba opini)


Objek wisata merupakan destinasi yang paling diminati banyak masyarakat. Dari berbagai tempat-tempat wisata yang kita tahu, mungkin yang berada di daerah-daerah atau di kota-kota, mampu mengangkat nama daerah atau kota yang di dalamnya terdapat destinasi wisata menarik.
Pada saat Ir. Joko Widodo resmi terpilih menjadi presiden RI, beliau berkomitmen, bahwa ia akan melakukan pembangunan Indonesia dimulai dari daerah pinggiran. Hal ini sangat baik menurut penulis, karena agar pembangunan itu bisa merata, serta dapat dirasakan oleh masyarakat pinggiran.
Memecah konsentrasi keramaian itu sangat penting, agar setiap kota atau daerah dapat semakin berkembang dan menunjukan dampak siginifikansinya dari sebuah pembangunan. Jangan sampai, pembangunan hanya dikonsentrasikan pada kawasan tengah kota saja, namun kurang memperhatikan kawasan pinggirannya.
Ketika keramaian kota hanya terjadi pada titik-titik itu saja, tanpa ada upaya untuk memecah keramaian tersebut, maka suatu saat kota tersebut akan semakin tertinggal dengan kota-kota lain. Semakin banyak tempat keramaian di kota tersebut, maka semakin banyak yang menjadi icon di kota tersebut, dan yang tak kalah penting hal itu juga dapat bernilai ekonomis.
Untuk dapat melakukan gerakan progresif demi memajukan kota melalui destinasi wisata, maka perlu kontribusi banyak pihak. Terutama dari kesolidan masyarakat setempat, pemudanya, kemudian didorong atau dibantu oleh pihak pemerintahan. Dengan terus melakukan konsolidasi kerjasama yang guyub, maka bukan tidak mungkin, destinasi wisata yang ada di pinggiran kota dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Menindaklanjuti komitmen Ir. Joko Widodo, terkait dengan pembangunan yang dimulai dari pinggir, dapat diadopsi dan diterapkan oleh pemerintahan kota atau daerah dalam melakukan pembangunan atau pemberdayaan ditempat ia bertugas saat ini. Mulai konsen memperhatikan bagian pinggiran kota, serta berfikir dan segera bergerak melakukan langkah nyata.
Metro, salah satu kota yang ada di Lampung, merupakan kota kecil dan dijuluki sebagai kota pendidikan. Saat ini icon yang banyak dikenal oleh masyarakat sekitar Metro mungkin hanyalah Taman merdeka, yang tepat berada di pusat kota.
Setiap insan yang singgah di kota Metro, pastilah Taman Merdeka menjadi tempat yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi. Untuk sekedar bermain, bersantai dan berfoto-foto, dirasa lumayan menarik, icon kota Metro yang berwujud Taman Merdeka tersebut.
Keramaian yang ada di Taman Merdeka itulah yang harusnya mulai dipecah dengan cara membuat icon lain yang berwujud destinasi wisata. Di kawasan Metro bagian utara, katakanlah daerah paling pinggiran kota Metro, kini terdapat destinasi wisata baru, yaitu Dam Raman.
Dam Raman terletak di Metro Utara, berbatasan langsung dengan kabupaten lampung tengah dan lampung timur. Dam Raman Merupakan sebuah destinasi wisata yang berbasis gerkan masyarakat. Berkat kegigihan dan keoptimisan masyarakat dari unsur pemuda dan komunitas tersebut, akhirya kini Dam Raman mulai menunjukan eksistensinya.
Yang penulis tahu, setiap hari sabtu dan minggu, Dam Raman ramai didatangi oleh pemuda/pemudi, serta pengunjung lain yang ingin menikmati wahana di tempat tersebut. Dengan tarif yang berkisar antara 5.000 rupiah sampai 15.000 rupiah per wahana, kita dapat menikmati sensasi di atas perahu karet, merasakan kesenangan memanah dan merasakan keseruan filying fox.
Kedepan, melihat potensi yang ada di Dam Raman, harusnya mempu memecah konsentrasi keramaian yang sebelumnya terpusat di tengah kota, perlahan mulai terbagi ke daerah pinggiran kota, berkat adanya destinasi wisata Dam Raman.
Keramaian yang terjadi di objek wisata Dam Raman, juga bisa memberikan dampak baik kepada masyarakat sekitar. Kedepan, jika Dam Raman menjadi objek wisata yang cukup baik, maka dipastikan akan ada pengunjung yang datang dari jauh, seperti mungkin dari luar kota.
Dengan begitu, pengunjung yang berasal dari jauh pastilah memerlukan tempat singgah untuk menginap. Dari situlah masyarakat sekitar dikoordinir untuk dapat menyediakan homestay. Dengan begitu, masyarakat akan merasakan dari kemajuan Dam Raman, lantaran mendapat keuntungan dari homestay tersebut. Maka, pemberdayaan masyarakat bisa diterapkan untuk mereka yang tinggal di sekitar Dam Raman.
Keuntungan bagi pemuda sekitar Dam Raman, dapat memperoleh keutungan financial dari wisata Dam Raman. Karena Dam Raman ini merupakan destinasi wisata yang benar-benar berbasis gerakan masyarakat, maka masyarakat juga yang leluasa mengelola dan mengambil keuntungannya.
Walaupun kedepan mungkin ada kaum borjuis yang ingin memanfaatkan keramaian Dam Raman, dengan cara membangun hotel dan sebagainya, hal itu akan ditolak, karena sudah ada homestay yang khusus masyarakat sekitar yang boleh menyediakannya. Semua demi adanya simbiosis mutualisme, antara pihak pengelola Dam Raman dan masyarakat sekitar.
Pengoptimalan objek wisata yang berada di pinggir kota, akan memberikan dampak yang baik untuk infrastruktur seperti jalan. Kita tahu, sekitar Dam Raman jalan yang ada tidak begitu bagus dan banyak lubang. Ketika Dam Raman mulai ramai, dan menghasilkan keuntungan financial yang lumayan, maka sebagian keuntungan bukan tidak mungkin bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur seperti jalan yang ada di sekitar Dam Raman tersebut.
Saat pemerintah abay terhadap pinggiran kota, dan banyak fokus kepada daerah pusat kota, maka kita sebagai masyarakat harus berdaya, bertindak mandiri, berguyub untuk saling bahu-membahu melakukan tindakan untuk kemajuan daerah pinggiran kota.
Berawal dari gerakan masyarakat, berawal dari pinggiran kota, mulai merintis untuk kemaslahatan bersama, merupakan niat baik. jika konsisten, akan berdampak baik untuk masyarakat juga.
Untuk masyarakat yang jauh dari lokasi Dam Raman, maka dengan berkunjung dan menikmati wahana di Dam Raman, berarti anda telah memberikan kontribusi pembangunan dan pemberdayaan pinggiran kota melalui destinasi wisata.
Kesadaran untuk melakukan pemberdayaan dan pembangunan yang dimulai dari pinggiran kota, sangat penting bagi kita selaku masyarakat. Tanpa harus menunggu pemerintah bergerak, maka gerakan masyarakatlah yang harus diperkuat. Dengan terus memberikan kontribusi, baik dalam bentuk cash money, tenaga, atau bermodalkan kreativitas. mari kita bersama-sama perdayakan Dam Raman, sebagai bentuk pemberdayaan destinasi wisata di pinggiran kota.

Penulis : Wahyu Eko Prasetiyo (Mahasiswa IAIN Metro)

Komentar