Rico "Cina" Dam Raman

Foto: Rico

Rico namanya, Pemuda blasteran Cina dan Jawa ini sedang mengecat besi berbentuk "Love". Dia jadi Jawa tulen dan tak lagi berbahasa Indonesia sebagaimana kakak-kakaknya dulu yang lebih tua dari usiaku. Pemuda yang lahir tahun 2000 ini, sehari-hari membantu bapak dan ibunya berdagang pecel dan gorengan. Zaman berubah tapi hidup harus terus berjalan. Dulu orang tuanya di zaman orba mengurusi pabrik padi terbesar di desa kami.

Ya, Rico saat itu belum lahir. Saat kakak-kakaknya hidup lumayan mewah saat itu. Yang aku salut dari anak muda ini, dia tidak pernah mengeluh. Dia terbiasa dengan hidup yang penuh dengan perjuangan. Saya yakin mau apapun suku yang datang di desa kami. Mereka akan sama dan menjadi Jawa. Ya Rico adalah Jawa tanpa Cina. Adanya gerakan #ayokedamraman mereka para pemuda, tiap siang dan malam membuat hal-hal baru. Kami harus mendaratkan gagasan ke alam nyata. Bukan hanya konsep dan konsep. Tapi mendaratkan hal yang paling mungkin dilakukan. Kami punya keterbatasan dana tapi kami punya semangat.

Mulai Minggu depan, silahkan nikmati beberapa fasilitas perahu karet, panahan, Flying Fox (minimal 20 orang), Outbond, Hammock dan kejutan lainnya. Wisata warga ini membuat pemuda-pemuda makin bergairah. Kami menggunakan ban bekas dan bola plastik di cat warna-warni agar makin indah. Kami selanjutnya merencanakan membuat bangku dari bambu agar ramah lingkungan. Kami berusaha membuat hal-hal baru tiap minggunya.

Kami juga sudah mengumpulkan uang pembangunan Mushola sejumlah Rp16.700.000,- semoga segera ada kejelasan dimana komunitas bisa membangun Mushola dan WC sederhana. Dibantu Paguyuban Purwoasri Bersatu (khusunya Bang Fortune), kami mengumpulkan ban bekas dengan jumlah yang lumayan banyak. Tadi pagi bahkan ada komunitas sepeda yang akan membantu kotak sampah agar Dam Raman terjaga kebersihannya. Maklum di Indonesia para pengunjung wisata selalu buang sampah sembarangan.

Rico dkk sedang belajar bagaimana pemuda desa melihat potensi wisata yang ada. Mungkin sebelumnya tidak ada yang spesial dari Dam Raman kecuali genangan air besar. Sejak kecil mereka berenang dan mencari ikan. Kini mereka menjadi bersemangat bahwa kreatifitas dan keramahtamahan harus mereka biasakan. Pemuda-pemuda yang tiap hari terbiasa guyonan Asu, Dancuk dan sumpah serapah lainnya ini saya ajak bersikap ramah kepada pengunjung. Yang membuat saya jadi merasa berguna, Ibunya Rico berkata kepada Istri saya saat membeli pecel. "Gara-gara mas Dharma, dagangan pecel saya siang sudah Habis ludes dibeli pengunjung." Jadi tunggu apalagi.

  #ayokedamraman.

Komentar