42 Hari #Ayokedamraman dan Pengelolaan Sampah



Hari Minggu kemarin ribuan orang mendatangi Dam Raman ada yang menikmati alam, menikmati wahana dan mampir membeli makanan dan jajanan yang disediakan warga pedagang. Kondisi Dam Raman sudah mulai teratur karena parkir lebih luas dan juga tahap pembenahan dari kekurangan-kekurangan yang ada terus diupayakan. Gerakan warga ini tentu dapat menjadi contoh bagaimana potensi wisata dan gotong royong warga adalah kunci.

Yang membedakan dari Minggu kemarin adalah telah tersedianya WC dan Mushola bagi para pengunjung yang akan buang air dan melaksanakan ibadah sholat. Mereka tak perlu lagi pulang. Dam Raman menjadi pilihan murah untuk melihat alam sebagai penghibur diakhir pekan. Bagi mereka yang ingin wahan air ada perahu bebek, bagi mereka yang ingin memanah panitia menyediakan panahan, bagi yang ingin selfie warga secara kreatif membuat spot-spot selfie. Penjual makanan yang datang pun sudah kami atur sehingga mereka berdagang di tempat yang kami tentukan bukan semrawut.

Persoalan Sampah.
Tentu sampah menjadi persoalan yang kami pikirkan sejak awal. Hari Sabtu Ir. Anang Prihantoro DPD RI saat menyerahkan 1000 bibit tanaman akasia dan 120 bibit kelapa Gading menyampaikan bahwa persoalan sampah ini menjadi hal utama. Kesadaran pengunjung dalam membuang sampah pada tempatnya memang butuh edukasi yang terus menerus. Alhamdulillah panitia siap siaga dengan kantong-kantong yang ada.

Kami berencana mengajak relawan untuk mengingatkan secara sopan ke pengunjung agar membuang sampah pada tempatnya yang tersedia. Kami akan memberi mereka seragam rompi bertuliskan "Pahlawan Kebersihan." Mereka dengan setia dan sabar untuk mengajak warga untuk membuang sampah pada tempatnya. Pengalaman saya pribadi kemarin sore. Saya mengambil sampah disekitar pengunjung dan memasukkannya di karung terdekat yang berjarak 1 meter. Hampir saya pastikan tidak ada yang membantu saya pribadi saat mengambil sampah di dekat dermaga wahana bebek air. Mungkin dikira saya adalah pemulung bagi para pengunjung 😊. Jarak 1 meter karung tidak membuat mereka tergerak untuk memasukkan sampah di sekitar mereka. Bahkan saya melihat orang tua tidak mengambil sampah yang hasil jajanan anaknya di bawah kakinya.

Kesadaran warga kita dalam kepedulian sampah memang minim. Untuk itu butuh kesabaran. Alhamdulillah para pedagang tenda, pedagang asongan kemarin sore langsung siap sedia saat sore hari setelah bubaran kami ajak bersih-bersih area Dam Raman. Namun tetap kita harus mengedukasi pengunjung untuk memahami bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama.

Pengalaman di Singapura cukup untuk membuat kita mengerti bahwa kebudayaan kepedulian sampah bisa kita bangun dalam Ekowisata Dam Raman. Apalagi sampah-sampah plastik ini juga bernilai ekonomi bagi warga. Kami tetap dapat nilai ekonomis dari sampah ini. Namun alangkah penting lagi jika mereka tahu bahwa 1 meter karung sampah di depan mereka itu adalah bagian solusi. Kita sudah lama jadi warga Indonesia, tentu memahami karakter warga yang masih abai dengan sampah.

42 hari atau 6 Minggu gerakan #ayokedamraman memberikan kami banyak pelajaran. Bergerak membangun ritme. Memformat gerakan warga. Dan tentu selalu optimis bahwa wisata warga ini adalah wisata yang murah tapi tidak murahan. Perputaran uang yang ada dari parkir, pedagang makanan, asongan, wahana air, wahana permainan anak dan spot-spot selfie dapat mencapai 50 juta lebih. Dan itu semua masuk ke kantong-kantong warga yang sejak awal mau bergerak berwirausaha. Wisata murah ini tentu saja tidak fokus ke kekeuntungan saja. Di luar itu kita sedang bersama-sama belajar menjadi warga yang ramah. Menjadi warga yang membangun kebersamaan. Kesadaran menyajikan wisata secara gotong royong. Dan dari itu semua, kita mengajak semua elemen untuk menciptakan kebauran agar pengunjung tidak mengalami titik kejenuhan.

Terakhir saya ingin mengutip lagu Iwan Fals berjudul Sampah.
Sampah racun
Yo ayo didaur ulang jadi uang
Sampah masyarakat
Ayo didaur ulang jadi orang
Sampah

Kalau kita tak bersahabat dengannya
Ia bisa ngambek dan membunuh kita
Kalau kita semua menganggap remeh dia
Jangan salahkan kalau dunia kiamat duluan

"Buang sampah pada tempatnya
Sampah jangan dibuang-buang percuma
Bisa jadi macam-macam bukan hanya semacam
Bau kotor dan segala yang menjijikkan

Sampah bukanlah musuh, bukan pula setan
Sampah hanya sesuatu yang belum termanfaatkan
Jangan dimusuhi apalagi diperangi
Sebab kemanapun kau pergi ada dia disitu

Sampah kertas plastik kaleng
Yo ayo didaur ulang jadi uang
Sampah sisa-sisa makanan
Yo ayo didaur ulang jadi uang."

Salam lestari. Buang mantan pada temannya, buang sampah pada tempatnya. #ayokedamraman.

*Penulis: Dharma Setyawan, Warga Biasa Penggagas #Ayokedamraman



Komentar