Mushola dan Toilet Dam Raman, Bentuk Nyata dari Gotong Royong Warga


Dam Raman, dari mulai dirintis, terhitung sejak september 2017, terus menunjukkan pergerakan progresnya. Pasalnya, kendati hanya sebuah gerakan yang berbasis masyarakat, artinya tidak ada dari pihak borjuis, pengusaha besar atau pemerintah yang mendominasi di dalamnya, pihak pengelola Dam Raman yang berasal dari unsur masyarakat terus berupaya meningkatkan integritas Dam Raman tersebut.
Selain memperhatikan kesenangan dan kepuasan pengunjung dalam menikmati wahana di Dam Raman, kini pihak pengelola Dam Raman juga mulai memikirkan terkait dengan kebutuhan serta kenyamanan pengunjung ketika berada di lokasi Dam Raman.
Demi memenuhi kebutuhan dan kenyamanan pengunjung, kini di Dam Raman dibangunlah toilet umum dan mushola. Toilet yang berjumlah 4 lokal (plong), serta mushola yang berukuran 4X4 M dengan teras yang memiliki lebar 2M tersebut akan siap memenuhi kebutuhan dan kenyamanan setiap pengunjung yang datang.
Bayangkan saja, ketika kita liburan di tempat wisata, lalu tidak ada toilet di lokasi tersebut, bagaimana jika tiba-tiba kebelet, pasti repot.
Atau, jika destinasi wisata tidak disediakan tempat ibadah (masjid/mushola), pasti ada sebagian orang yang enggan untuk datang. Karena, ada sebagian dan bahkan banyak orang sangat mementingkan yang namanya sholat. Jadi, jangan sampai pergi berlibur di tempat wisata, justru mengesampingkan ibadahnya. Tentu sangat tidak elok.
Oleh karena itu, secara bertahap kini pengelola Dam Raman akhirnya mampu untuk melakukan pembangunan dua hal yang menurut penulis sangat vital, yaitu berupa mushola dan toilet. Dengan adanya mushola dan toilet di Dam Raman, maka harapannya adalah pengunjung lebih nyaman karena fasilitas yang telah disediakan.
Dana yang terkumpul, berasal dari beberapa donatur. Diantaranya ada dari unsur mahasiswa, dosen, pemerintah dan warga local Dam Raman sendiri.
Seperti yang dikemukakan oleh Dharma Setyawan (dosen IAIN Metro, sekaligus yang menjadi penggagas wisata Dam Raman). Lokasi yang kini dipergunakan sebagai toilet dan mushola Dam Raman merupakan lahan/tanah milik bapak Budiono, warga asal Pekalongan kabupaten Lampung Timur.
Gerakan pembangunan mushola dan toilet Dam Raman yang gesit, adalah akibat dari semangat gotong royong warga yang solid. Banyak yang ikut andil dalam pembangunan mushola Dam Raman tersebut. diantaranya Pak Yono (ketua paguyuban Purwo Asri bersatu), turut menyumbangkan kayu, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dinding mushola.
Tidak cukup sampai di situ, Dharma Setyawan selaku penggagas wisata Dam Raman terus melakukan gerakan ke kolega-kolega. Sehingga, salah satu dosen, yang saat ini juga menjabat sebagai wakil reKtor 3, IAIN Metro Lampung, yaitu Dr. Ida Umami, M. Pd. Kons, turut bergotong royong dengan cara menyumbangkan keramik untuk mushola Dam Raman.
Kebaikan yang telah dilakukan oleh Mas Dharma Setyawan, Pak Yono, ibu Ida Umami dan kawan-kawan lainnya, dengan melakukan gerakan dalam upaya peningkatan kualitas Dam Raman, akhirnya kebaikan itu menular kebanyak orang, sehingga menjadi sebuah kebaikan public dan berdampak pada timbulnya gerakan gotong royong warga di Dam Raman.
Pembangunan mushola Dam Raman merupakan titik awal gerakan warga. Dimana saat pembangunan mushola inilah banyak yang berpartisipasi aktif, baik secara fisik maupun non fisik. Salah satu contohnya yaitu terkait dengan tenaga yang melakukan pembagunan mushola adalah tenaga sukarela (gotong royong).
Melihat kesadaran warga bergotong royong, serta semangat warga dalam meningkatkan dan memajukan Dam Raman, seharusnya hal ini mendapatkan support dan ditopang dengan kebijakan pemerintah, yang mengarah pada wisata yang berbasis gerakan masyarakat.
Dengan mempertahankan Dam Raman sebagai wisata yang berbasis gerakan masyarakat, yang ditopang dengan kebijakan pemerintah setempat, maka Dam Raman akan tetap menjadi sebuah tempat wisata yang murah, merakyat dan bersahabat bagi semua lapisan masyarakat. Nantinya, keuntungannya juga akan kembali kemasyarakat. Jadi, bukan melulu pihak korporasi yang dikayakan dan diuntungkan.
Gotong royong dalam upaya kemajuan Dam Raman, selain dari pihak warga sekitar Dam Raman, juga ikut terlibat di dalamnya sekelompok mahasiswa, khususnya para relawan Metrouniv.ac.id IAIN Metro, yang ikut mempublikasikan Dam Raman melalui instagram, facebook, melalui video-video, menjual kaos dan membuat ayokedamraman.com. sehingga Dam Raman banyak dikenal dan diketahui banyak masa.
Yang terpenting disini adalah, untuk melakukan sesuatu yang besar, tidak perlu untuk menunggu kebijakan atau gerakan pemerintah. Namun, dengan gotong royong warga yang didasari dengan rasa ikhlas dan penuh kesadaran itu sudah cukup.
buktinya, secara bertahap, gerakan masyarakat  mampu mengubah Dam Raman yang sebelumnya biasa saja, menjadi destinasi wisata yang luar biasa. Semua itu hanya perlu kesadaran masyarakat, dengan melakukan langkah-langkah solutif. Bukan bisanya hanya menunggu dan menunggu dari pemerintah saja.
Dam Raman dan pembangunan mushola Dam Raman membuktikan bahwa di daerah pinggiran kota masih ada gotong royong. Hal ini seyogyanya dapat diikuti oleh masyarakat yang tinggal di bagian tengah kota, khususnya kota Metro, untuk dapat mengatasi permasalahan yang ada.
Contoh permasalahan yang masih kompleks di kawasan tengah kota, biasanya adalah permasalahan sampah. Warga selalu diresahkan dengan semakin tingginya volume sampah. Maka, gerakan masyarakat atau gotong royong seharusnya mampu mengatasi hal tersebut, tanpa harus menunggu gebrakan pemerintah.
Adanya  Dam Raman, juga membuktikan bahwa gerakan masyarakat mampu untuk menciptakan hal yang besar. Dari gotong royong Dam Raman, juga mampu menarik begitu banyak oranng untuk dapat berbuat baik. paling tidak, banyak yang menjadi lebih sadar betapa pentingnya keterlibatan masyarakat dalam melakukan sebuah gerakan.
Saatnya kini masyarakat berdaya mandiri, dengan menyatukan persepsi, melakukan langkah-langkah solutif dan penuh inovatif. Saatnya kini dari warga untuk warga. Dengan bergotong royong, masyarakat mengembangkan potensi, dan menjadi solusi dari permasalahan yang ada.

Penulis : Wepo (Relawan Metrouniv.ac.id)

Komentar