Pengembangan Pariwisata Lokal Dam Raman dan Usaha Menyadarkan Penguasa (Lomba Opini)


Ritme sektor pariwisata di dunia hari ini sedang mengalami percepatan. Kecenderungan masyarakat dunia untuk berwisata  menuju ke zona hijau, animo masyarakat dunia untuk berwisata cukup tinggi.  di tengah Era perdagangan bebas antar bangsa-bangasa Laju pertumbuhan pariwisata dunia semakin ngebut meninggalkan laju pertumbuhan perdagangan dunia. Menurut United Nations World Tourism Organization pertumbuhan pariwisata dalam 4 tahun terakhir berhasil mengungguli pertumbuhan perdagangan dunia, pada rilisnya mei tahun 2016 bahwa angka pertumbuhan pariwisata dunia tumbuh 4 % melampaui pertumbuhan perdagangan dunia yang hanya berada pada kisaran 2,8 %.

Efek domino dari membaik nya dunia pariwisata internasional juga dirasakan pariwisata nasional. Perkembangan daya saing wisata nasional semakin cabe rawit. Dalam laporan The Travel and Tourism Competitiviene Indeks yang dirilis WEF yang diikuti 141 negara bahwa indeks daya saing pariwisata indonesia naik 8 peringkat beada pada peringkat 50
.
Gairah pariwisata nasional dan lokal perlu mendapat support lebih dari pemerintah. Peluang yang ada harus di tangkap baik. Pembangunan pariwisata yang terkoordinasi dengan pemberdayaan yang melibatkan rakyat perlu dimasifkan. Sektor pariwisata yang dikelola dengan baik akan bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi negeri, mengingat sektor pariwisata pada tahun 1997 pernah menjadi menyumbang devisa terbesar ke 5 bagi indonesia, namun oleh rezim 65 potensi tersebut kurang dioptimalkan karena alergi komunisme takut akan masuknya pengaruh komunisme dari wisatawan-wisatawan dari luar.
Warisan ketakutan dari fase orde baru semestinya tidak menghantui pertumbuhan pembagunan pariwisata pada fase reformasi. Potensi yang dimiliki pariwisata indonesia sangat lah besar. panorama alam nya yang indah, kebudayaan sosial masyarakat nya yang kaya, merupakan daya tarik yang tidak dimiliki di negara lain.

Di zaman kekinian sekarang ini pembanguna pariwisata dengan kata  kuncinya kapital dari investor sudah tidak relevan lagi. Di tengah kemajuan tingkat peradapan, pendidikan, dan sosial bangsa ini , seharusnya pemerintah dalam pengembangan wisata nasional dan lokal bisa melibatkan banyak pihak termasuk rakyat.

Geliat wisata lokal juga mengalami perkembangan yang semakin baik, seperti yang ada di kota Metro, sebuah wisata yang dikelola dari partisipan warga, pengelolaan wisata yang tidak hanya melibatkan masyarakat sekitar, warga komunitas dan kalangan akademisi.

Pengembagan pariwisata lokal kota metro dengan usaha gotong royong bersama banyak kalangan seperti warga sekitar, komunitas purwosari bersatu, komunitas metro bergeliat, komunitas bank sampah, komunitas metro univ, kalangan mahasisiwa dan dosen IAIN Metro dan lain sebagainya.

Kerja kolektif dalam jargon “Ayo Ke Dam Raman” yang di inisiasi warga merupakan bentuk dari teori pariwisata yang diungkapkan oleh Dogan Gursoy dan K.W Kendall “bahwa warga lokal akan dengan senang berpartisipasi jika mereka mendapat manfaat tanpa mengorbankan terlalu banyak hal. Jika manfaat lebih besar ketimbang dampak negatif, mereka akan mendukung pengembangan pariwisata di daerah mereka.”

Namun jika dampak negatif nya lebih besar maka terjadi sebalikanya warga akan melawan. Sebuah kesadaran baru dari masyarakat madani, membuat pergeseran pembangunanisme yang semuala hanya dilimpahkan kepada pemerintah kini masyarakat peduli turut aktif dan responsif.

Melihat partisipasi warga kota yang besar terhadap pembangunan wisata lokal layaknya pemerintah kota harus bisa bersinergi dengan baik dan segera mengambil peran nyata dalam pengembangan wisata lokal.

Stop aktor birokrasi yang hanya duduk asyik, yang gemar bersenandung lagu klasik seputar janji – janji lama. Sudah saat nya pemerintah dan warga berbaur dalam pembangunan wisata lokal kota metro.

Dengan Semangat usaha bersama  our city our responsibility memajukan wisata lokal kota Metro Dam Ram akan terwujudkan dengan seksama. Amin

Penulis: Nur Habib Rubai

Komentar