Tong Sampah dari MBC

Pada Minggu pertama gerakan #ayokedamraman saya bertemu dengan Kang Yanto. Beliau adalah anggota Metro Blusukan Coy (MBC) sebuah komunitas sepeda yang hobi melakukan kegiatan sosial. Pada saat bertemu saat itu Dam Raman masih sangat sepi. Pagi sekitar jam 8 saya ngobrol dengan beliau dan bercerita banyak soal keinginan saya untuk melakukan kampanye #ayokedamraman. Saat itu Dam Raman ramai hanya dihari minggu saja. Sabtu itu Kang Yanto mengajak istri dan anaknya dengan bersepeda sambil menikmati kopi hangat yang beliau bawa dari rumahnya di 24 Metro Timur.
Saat berkenalan, Kang Yanto bercerita bahwa beliau memiliki komunitas sepeda MBC. Saat itu juga beliau mengatakan ingin membantu bersama kawan-kawan di komunitasnya, yaitu memberikan tong sampah agar Dam Raman tetap bersih dan pengunjung tidak kesulitan mencari tempat membuang sampah. 
50 hari kemudian beliau menepati keinginannya untuk Dam Raman. 4 Tong Sampah terbuat dari drum yang dicat rapi dan ditanam di tanah. Bahkan adonan semen dan pasir beliau siapkan bersama kawan-kawan komunitasnya.
Jauh sebelum itu Pak Yono juga membantu tong sampah untuk ditempatkan di sekitaran pengunjung. Dan gerakan #ayokedamraman juga membuat tong sampah dari besi  yang di las melingkar, ini terinspirasi dari Walikota Bandung Ridwan Kamil. Kotak sampah yang menggunakan model 2 kantong dilingkarkan ke lingkaran besi jika sudah penuh kantong dapat diangkat dan diganti kantong baru.
Gerakan swadaya dari komunitas ini membuat saya percaya bahwa perubahan itu terjadi saat semua orang merasa peduli untuk melakukan banyak hal.
Saya melihat komunitas MBC mendukung destinasi wisata-wisata baru di Lampung. Di Way Kanan, MBC mendukung wisata Bamboo Rafting. Kemarin MBC memberi spanduk banner, "Selamat Datang di Wisata Dam Raman."
Kebaikan yang dilakukan berbagai komunitas dalam mendukung gerakan warga membangun wisata ini, kelak dapat di replikasi di sudut-sudut kota ini. Tidak perlu menunggu pemerintah, asal ada niat baik dan konsistensi dalam berbuat baik, saya yakin banyak orang yang akan mendukung.
Pembangunan destinasi wisata tidak melulu bertumpu pada 1 peran pemerintah, perlu ada komunitas atau gerakan warga yang menginisiasi awal agar kesadaran kolektif itu terbangun, biarpun pelan namun pasti, gerakan tersebut bermaksud mengajak warga untuk saling memiliki dan menjaga potensi yang ada.

Dam Raman menjadi wisata murah bagi semua warga. Alam yang indah, warga yang ramah, dan lingkungan yang aman kini menjadi berkah bagi semua orang. Pemberdayaan warga berbasis wisata membuat warga terus menjadi tuan di rumahnya sendiri. Tidak perlu mengundang investor yang membuat warga menjadi terasing. 
Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, kenapa pedagang kaki lima terus terasing dan digusur. Tentu itu akibat keinginan investor dan pengembang yang menginginkan warga tercabut haknya. Saya kira persoalan-persoalan hilangnya hak-hak warga dapat dipahami melalui film-film dokumenter karya Dandhy Dwi Laksono seperti Belakang Hotel, Samin vs Semen, Kala Benoa, Onde Mande dan lainnya. 
Kita terus berharap kesadaran membangun sikap kolektif ini tidak tergerus oleh sikap tidak sabaran. Gampang mengundang pihak lain dan berakhir dengan kegagalan dalam pemberdayaan warga. Semoga Dam Raman tetap menjadi wisata yang merakyat. Salam Dam Raman, "Damai, Ramah dan Aman."

Penulis: Dharma Setyawan

Komentar