Wisata Dam Raman dan Gerakan Warga


Sudah 5 Minggu atau 35 hari gerakan #Ayokedamraman dikampanyekan. Tidak semua yang diharapkan berjalan mulus. Namun optimisme komunitas #Ayokedamraman terus diuji untuk dapat menyelesaikan persoalan yang muncul di tengah ramainya pengunjung. Beberapa pemuda komunitas mendapat tekanan dari berbagai pihak, warga yang memaksa ingin berdagang, orang-orang baru yang mencoba ingin mengatur hal-hal yang ada di Wisata dan juga persoalan sampah yang tentu harus segera dipecahkan.
Pertama, persoalan pedagang yang ingin membuka lapak tentu hal tersebut sangat positif. Namun jika mereka mendirikan tenda dengan tidak menimbang keindahan, lambat laun akan merusak pemandangan, dan hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Balai pengairan sebagai pihak yang berwenang dalam pengelolaan Dam Raman, jelas akan kecewa dengan kondisi pedagang yang semrawut ini. Setidaknya ada hal-hal yang kami ingin upayakan dihari-hari ke dapan. Dam Raman yang berbatasan dengan 3 wilayah Purwoasri Metro Utara, Wonosari Lampung Timur dan Srisawahan Lampung Tengah ini harus dikelola secara lapang dada dan terarah. Kami akan berembug bagaimana pedagang ini tetap diberikan tempat namun mereka rapi dan bertanggungjawab. 3 Pihak dalam waktu dekat harus berembug bagaimana menyadarkan para pedagang. Bahwa pengunjung datang ke Dam Raman ingin melihat keindahan, kebersihan dan keamanan Dam Raman sebagai tempat wisata. Bukan melihat tenda-tenda darurat di sekitar pemandangan alam yang indah.
Kami memang sedang fokus membangun Mushola dan Toilet. Namun setiap hari para pedagang berdatangan seperti fenomena eksodus pedagang tempel ke wilayah Dam Raman. Beberapa dari mereka bahkan ada yang tidur dilapak-lapak yang mirip tenda darurat bencana. Pemerintah dari 3 kabupaten pun tidak dapat melakukan sesuatu, missal dengan memfasilitasi tenda yang layak, seragam dan rapi. Tapi sejak awal gerakan warga ini harus mulai belajar memformat dirinya untuk lebih baik. Pedagang yang lebih dulu membuka lapak, sebenarnya sepakat jika akan ditertibkan. Mereka bersedia jika akan difasilitasi oleh pihak 3 wilayah untuk mendirikan lapak yang layak dan rapi tapi bisa diangsur. Maka pedagang baru harus diberi penjelasan yang sama terkait hal di atas.
Saya pribadi bersyukur mengenal Pak Suyono, Ketua Paguyuban Purwoasri Bersatu yang sangat cepat responnya dalam gerakan warga ini. Saat pertama kali saya mengkampanyekan gerakan #ayokedamraman, Pak Elang (sebutan lain Pak Yono) selalu terdepan dalam mendukung. Dimulai dari gerakan Ban Bekas Pak Elang menyiapkan 100 Ban bekas untuk memperindah Dam Raman dan gotong royong mengecat agar tampak indah. Saat kami menggerakkan sedekah pembangunan Mushola dan Toilet, Pak Elang langsung menebang pohon untuk diwakafkan ke Mushola. Sampai hari ini terkumpul 18 juta lebih dana yang terkumpul untuk Mushola, saya yakin akan terus bertambah. Bahkan itu belum dihitung mereka yang akan menyumbang keramik untuk Mushola dan Toilet. Sekali lagi kebaikan itu menular. Dan Pak Elang adalah tokoh masyarakat yang full membantu gerakan #Ayokedamraman.
Kemarin sore kami berbincang, setelah nanti selesai pembangunan Mushola dan Toilet. Kami akan fokus menata pedagang bersama-sama. Bersama Paguyuban yang lainnya, kami berharap penataan ini berjalan lancar dan tidak ada prasangka buruk. Saya pribadi berharap bahwa semua warga dapat memahami bahwa para pengunjung yang datang pada hakikatnya bukan ingin melihat para pedagang, tapi mereka ingin melihat keindahan alam Dam Raman. Sebuah anugerah Tuhan yang diberikan di 3 wilayah perbatasan tapi baru mereka rasakan keramaiannya 2 minggu ini, 3 minggu sebelumnya tentu banyak perjuangan. Setiap Sabtu dan Minggu selalu ramai dan jelas pedagang sangat diuntungkan. Saya yakin akan terus bertambah pengunjung saat Mushola dan Toilet sudah selesai. Mereka bisa buang air dan sholat tanpa harus pulang.
Kedua, Tugas kami selanjutnya adalah meningkatkan kenyamanan dan keamanan kepada para pengunjung. Kami terus gotong royong mempercantik spot-spot untuk selfie. Kami membuat wahana-wahana yang membuat pengunjung semakin betah berada di Dam Raman. Bahwa warga jika dijelaskan dan digerakkan dapat melakukan perubahan sosial dengan cepat. Wisata yang digagas oleh warga ini dapat berdampak ekonomi pada kehidupan mereka (apalagi kita ketahui musim tanam kemarin mereka gagal panen). Kami menolak intervensi Individu yang memiliki cukup modal sehingga warga kelak tersingkir. Gerakan #ayokedamraman adalah potret kesadaran warga yang lahir dan besar di sekitar kawasan Dam Raman.
Kesadaran bersama inilah yang menjadi semangat bahwa keuntungan yang ada, atau ‘kontribusi’ dari setiap pedagang dan wahana dapat dipertanggungjawabakan untuk membangun dan merawat Dam Raman. Kami menolak adanya pungutan liar yang tidak bertanggungjawab baik itu oknum warga atau oknum pemerintah. Maka kami harus tahu bahwa setiap retribusi yang diambil harus dapat diaudit sehingga semua orang yang terlibat dalam meramaikan #Ayokedamraman, mengetahui pemanfaatan dana itu secara benar dan transparan.
Untuk itu saya pribadi berharap bahwa gerakan #ayokedamraman ini dapat dijaga bersama-sama sehingga di kemudian hari tidak ada persoalan-persolan yang tidak bisa diselesaikan. Musyawarah bersama menjadi point penting bahwa semua orang yang terlibat setara dan dapat menyampaikan pendapat. Tentu semua untuk kemajuan Dam Raman agar lebih baik. Mempercantik Dam Raman adalah tugas bersama, bukan hanya mengambil keuntungan yang sudah ada. Mengampanyekan di media sosial tentang pariwisata Dam Raman sudah cukup berhasil. Selanjutnya adalah memperbaharui wahana dan spot-spot indah lalu merawatnya agar tetap lestari.
Ketiga, Bahwa setiap pedagang harus bertanggungjawab terhadap sampah yang dihasilkan dari setiap aktifitas perdagangan. Kami sejak awal sudah menyiapkan karung-karung disekitar pedagang agar tidak mencemari lingkungan. Lingkungan yang bersih adalah tanggungjawab kita semua, termasuk pengunjung. Sekitar 2 minggu yang lalu, saya pribadi mendapati pengunjung yang membuang popok bayi dengan kotorannya di bawah Ban. Maka kami dengan sabar memungut dan terus mengingatkan warga yang datang agar membaca dengan seksama, banner yang telah kami pasang di tiap sudut ‘Buanglah sampah pada tempatnya’. Disitulah point penting wisata berbasis ekologis, yaitu wisata yang berupaya tetap menghargai nilai-nilai lingkungan agar tetap bersih, rapi dan hijau.
Sore ini kami membuat sendiri wadah sampah dari besi yang kita las melingkar. Semoga ini juga menjadi contoh bahwa warga kreatif selalu menjadi pelajaran berharga. Setiap ide-ide yang lahir dari para penggerak mulai dari tulisan kayu, mengecat Ban, Mengecat bola plastik, membuat love dari besi, memasang hammock, membuat pagar dari bambu dan member warna-warni adalah contoh inisiatif yang lahir dengan kesadaran komunitas dan didaratkan bersama dengan gotong-royong. #Ayokedamraman adalah contoh gotong royong warga dalam membangun wisata berbasis kemandirian. Maka tidak ada kata lain kecuali “#Ayokedamraman!”
* Dharma Setyawan, Warga Biasa Penggagas #Ayokedamraman.

Komentar