100 Hari #ayokedamraman




100 hari #ayokedamraman tepat nanti pada tanggal 10 Desember. Momentum yang baik untuk berefleksi khususnya untuk para pedagang. Banyak hal yang sudah dilakukan oleh komunitas dan warga dalam memformat wisata desa untuk lebih baik. Namun untuk pedagang, kami merasa harus memberi catatan penting pada tulisan ini.  Koordinator 3 wilayah ke depan harus menyepakati ukuran lapak, bahan bangunan dan mekanisme aturan untuk semua pedagang secara seragam. Beberapa catatan untuk pedagang antara lain;
Pertama, gerakan wisata #ayokedamraman paling berimbas pada mereka. Pedagang dadakan dan pedagang betulan muncul tiba-tiba bak cendawan dimusim hujan. Sebagai sesama warga tentu kami tidak bisa menolak orang-orang menangkap rezeki. Namun persoalan itu dimulai saat mereka membuat tenda-tenda yang membuat wajah Dam Raman terlihat tidak indah. Komunitas #ayokedamraman dan warga lain berlomba membuat spot selfie, mereka−para pedagang−sibuk untuk mengambil keuntungan atas apa yang selama ini diusahakan oleh komunitas. Dalam hati kami, tentu senang jika pendapatan mereka bertambah, tapi perlu diingat bahwa kelak tenda-tenda yang didirikan ini harus dapat dirapikan dan Dam Raman kembali rapi bersih. Kemudian standar harga yang terjangkau perlu ditulis agar pembeli mengetahui harga pasti dari setiap makanan yang dijual.
Kedua, ada 3 cara untuk mendidik pedagang supaya lebih baik. Dialog dengan komunitas, bantuan pemerintah dan menggandeng swasta. Yang memungkinkan adalah kerjasama dengan swasta terutama bank atau koperasi. Sudah beberapa Baitul Maal Watamwil (BMT) yang menawarkan konsep bangunan pedagang yang terbuat dari bahan-bahan alam seperti kayu gelam, bambu dan beratap nipah. Saya berharap ke depan hal ini dapat terwujud, dan harapannya pedagang dapat mengangkus biaya dengan angsuran yang terjangkau. Sistem bangunan yang terlihat klasik dan lekat dengan alam akan membuat Dam Raman semakin diminati oleh pengunjung.
Ketiga, masalah pedagang asongan. Jika dituruti semua orang akan berdagang dan membuat sampah. Saya kira ini persoalan yang tidak mudah. Pedagang asongan mulai dari es, somai, petisan, mainan, makanan ringan dan lainnya paling susah diatur. Mereka memang tidak membuat tenda, tapi sampah yang mereka produksi malah lebih banyak. Ke depan komunitas di 3 wilayah harus memahami bahwa sampah mereka adalah ancaman bagi keberlangsungan wisata. Jika diusahakan tempat khusus pedagang asongan sudah tidak memungkinkan lagi.
Sebelum 100 hari #ayokedamraman, komunitas juga telah menyelesaikan film terkait gerakan wisata warga ini. Siang ini (20/11) sampai kamis ke depan. Saya membawa film ini untuk ditampilkan pada acara Annual International Confetence on Islamic Studies (AICIS) khususnya pada Pendis Expo. Semoga ini membawa kebaikan untuk mengenalkan Dam Raman ke forum international. Upaya ini berkat bantuan Dr. Suhairi, M.H dan dosen lainnya sebagai bagian dari pengabdian masyarakat dosen dan mahasiswa di lingkungan IAIN Metro.
Selanjutnya hal yang terpenting adalah upaya pemerintah membuat jalan di 3 wilayah makin baik. Akses menuju Dam Raman perlahan akan diperbaiki. Di wilayah 35 Wonosari jalan sudah halus. Januari mendatang jalan diwilayah Lampung Tengah dan bulan desember ini perbatasan Metro. Ketika akses jalan sudah baik maka tugas selanjutnya adalah melebarkan wisata mendekat ke pemukiman warga. Usaha peternakan susu sapi yang ada di Purwoasri kelak dapat menjadi destinasi wisata bagi warga kota. Kebun karet di Wonosari dapat disadap oleh para pengunjung sebagai bagian dari wisata edukasi perkebunan. Sawah-sawah di Srisawahan Lampung Tengah dijadikan projek pertanian organik dan mengajak para pengunjung dari kota untuk membajak sawah dan belajar menanam.
Sepanjang bibir air daerah Lampung Tengah dapat dibangun saung-saung yang didirikan oleh warga secara gotong royong. Sekali lagi, secara gotong royong bukan mengundang investor. Potensi bambu yang melimpah di desa Srisawahan cukup untuk membuat saung-saung yang menambah nyaman para pengunjung bercengkerama bersama keluarga di sepanjang bibir air.
Permainan tradisional anak sudah mulai dikerjakan oleh komunitas #ayokedamraman. Anak-anak kita dapat bermain sepuasnya dan poin pentingnya mereka mengenal kembali permainan orang tua mereka dimasa kecil.
Penanaman pohon disepanjang jalan juga penting. Agar nuansa alam yang rindang sudah dapat dirasakan sebelum pengunjung mamasuki kawasan Dam Raman. Warga bisa memilih menanam pohon buah yang kelak berdampak ekonomi bagi warga.
Wisata Dam Raman harus dibuat semurah dan seramah mungkin bagi para pengunjung. Kawasan yang terpotong jalan lintas ini tentu tidak dapat menerapkan karcis. Pengunjung cukup membayar parkir dan silahkan menikmati alam sepuasnya.

Penulis: Dharma Setyawan

Komentar